Dampak Gawai dan Media Sosial pada Otak

Di luar sekolah, penggunaan gawai secara berlebihan juga menjadi perhatian serius. Para ahli memperingatkan bahwa konsumsi media sosial yang tinggi dapat memicu percepatan penuaan otak.

Fenomena ini berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan otak terhadap rangsangan dopamin dari arus informasi yang terus-menerus.

Ahli neurosains kognitif dari Massachusetts Institute of Technology, Earl Miller, menjelaskan kecenderungan tersebut.

“Kita adalah makhluk yang berpikiran sempit dan ketika semua informasi ini datang kepada kita, kita ingin mengonsumsi semuanya dan sulit untuk mematikan keinginan itu,” ujarnya, seperti dikutip dari National Geographic.

Selain itu, usia biologis otak tidak selalu sejalan dengan usia kronologis seseorang. Proses penuaan organ tubuh dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan geografis, serta gaya hidup. Kondisi otak yang menua lebih cepat dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan di masa depan.

Pendekatan Baru Pendidikan di Denmark

Sebagai respons terhadap fenomena ini, pemerintah Denmark mulai menerapkan kebijakan baru di dunia pendidikan. Sejak tahun ajaran 2025/2026, siswa diminta menyerahkan perangkat seperti ponsel, tablet, dan laptop sebelum kegiatan belajar dimulai.

Penggunaan teknologi digital sebagai alat bantu ajar juga dihentikan. Sekolah kembali mengandalkan metode konvensional, seperti buku teks fisik, lembar kerja, dan tugas menulis.

Kebijakan ini tidak hanya berlaku di dalam kelas, tetapi juga pada kegiatan ekstrakurikuler yang membatasi penggunaan perangkat digital. Bahkan, terdapat Hari Tanpa Ponsel nasional yang mendorong masyarakat untuk tidak menggunakan gawai selama satu hari.

Hasilnya, produktivitas dan performa siswa dilaporkan meningkat. Selain itu, kepercayaan diri mereka juga mengalami perbaikan, mengingat penggunaan gawai berlebih sebelumnya dikaitkan dengan rendahnya rasa percaya diri serta penurunan kesehatan mental.