Teori Dahrendorf menekankan bahwa bentrokan semacam ini bukanlah anomali destruktif, melainkan pendorong utama perubahan dinamis dalam sistem. Konflik memaksa re-organisasi struktur kekuasaan melalui negosiasi paksa, aliansi baru, atau bahkan kehancuran sementara yang pada akhirnya menghasilkan keseimbangan yang lebih stabil. Eskalasi terkini membuktikan hal itu. Serangan AS-Israel tak hanya menghambat program nuklir Iran sementara, tetapi juga mendorong Teheran mendekatkan diri pada Rusia-Cina demi memicu pembentukan blok tandingan baru yang menantang dominasi dolar AS di perdagangan minyak global. Siklus ini mengubah tatanan Timur Tengah secara permanen, di mana Iran berhasil merebut ruang kekuasaan lebih besar melalui perlawanan berkepanjangan, sementara AS-Israel terpaksa mengalokasikan triliunan dolar untuk pertahanan, menggerus sumber daya domestik mereka.

Secara global, dampak konflik ini seperti gempa ekonomi yang mengguncang fondasi dunia. Harga minyak Brent melonjak 35% menjadi US$120 per barel dalam seminggu terakhir, memicu inflasi membara di Eropa (diprediksi 8-10%) dan AS, dengan resesi potensial di negara pengimpor besar seperti India, Jepang, dan Korea Selatan yang bergantung 70% pada impor Teluk Persia. Rute perdagangan vital Selat Hormuz yang mana 20% minyak dunia mengalir, terganggu oleh penambangan ranai dan serangan drone, memaksa pengalihan rute yang menaikkan biaya logistik 50%. Rusia diuntungkan besar dengan ekspor gas ke Eropa naik 15% via pipa TurkStream, sementara China mempercepat de-dolarisasi melalui kesepakatan yuan-minyak dengan Venezuela dan Iran, menggeser keseimbangan ekonomi multipolar.