Dari perspektif teori konflik Ralf Dahrendorf, dinamika kompleks ini secara sempurna mencerminkan konsep perebutan kekuasaan struktural yang menjadi inti pemikirannya. Dahrendorf, sosiolog Jerman abad ke-20, berpendapat bahwa konflik sosial lahir secara inheren dari distribusi otoritas yang tidak merata dalam sebuah struktur kekuasaan, yang secara alami membagi aktor menjadi dua kelompok utama, yakni Superordinat (mereka yang menduduki posisi penguasa dengan akses superior atas sumber daya, militer, dan teknologi) dan Subordinat (mereka yang berada di bawah dan terus berupaya merebut otoritas tersebut).

Dalam kasus Iran-AS-Israel, AS dan Israel jelas berperan sebagai kekuatan Superordinat yang mengandalkan superioritas militer konvensional seperti armada kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Mediterania, jet tempur F-35 siluman, dan kecerdasan buatan untuk perang siber untuk mempertahankan hegemoni regional dan mencegah proliferasi nuklir yang mengancam status quo. Sebaliknya, Iran sebagai aktor Subordinat merespons dengan strategi asimetris cerdas berupa program nuklir rahasia sebagai kartu tawar-menawar, jaringan proksi seperti Hizbullah (dengan 150.000 roket tersembunyi), dan diplomasi tandingan dengan BRICS untuk menggerus isolasi ekonomi.