JAMBI — Pengusutan kasus dugaan peretasan rekening nasabah Bank 9 Jambi memasuki babak baru. Aliran dana hasil transaksi ilegal berhasil ditelusuri hingga ke platform kripto dan sejumlah wallet penampung.
Berdasarkan penelusuran awal, dana milik nasabah diduga dikirim ke platform exchange, kemudian dibelikan Bitcoin sebelum dipindahkan ke beberapa wallet eksternal. Wallet tersebut kini menjadi fokus pelacakan aparat dan otoritas keuangan.
Sumber yang terlibat dalam investigasi menjelaskan, alur perpindahan dana berlangsung secara sistematis.
“Alurnya jelas, dari rekening Bank 9 dikirim ke exchange, dibelikan Bitcoin, lalu dipindahkan ke wallet eksternal. Dari wallet yang teridentifikasi dari pihak exchange, kemudian setelah diperiksa OJK bertambah lagi beberapa wallet yang harus dilacak,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Ia menambahkan, sembilan wallet awal berasal dari data platform Tokocrypto, sementara dua wallet tambahan ditemukan setelah pemeriksaan lanjutan oleh otoritas keuangan.
“Dari 45 akun yang dipakai untuk transaksi, dana mengalir ke beberapa wallet utama. Setelah dicek lagi oleh OJK, ditemukan tambahan wallet baru. Data itulah yang kemudian diserahkan untuk ditelusuri lebih lanjut,” katanya.
6.609 Transaksi Terjadi
Jumlah transaksi dalam kasus ini menjadi sorotan karena terjadi dalam waktu singkat. Data menunjukkan terdapat 6.609 transaksi keluar dalam rentang dini hari hingga siang hari.
“Transaksi mulai sekitar pukul 02.37 dini hari sampai pagi, lalu berlanjut sampai sekitar jam 13.00. Polanya berulang dan sistematis,” ungkap sumber tersebut.
Ia juga menyoroti proses pendataan transaksi di internal bank yang disebut masih dilakukan secara manual.
“Jumlah transaksi ribuan, tapi pendataan dilakukan manual. Harusnya sistem otomatis ada untuk rekap. Ini yang jadi tanda tanya, kenapa data lambat keluar,” ujarnya.
Laporan Fraud Sudah Masuk Sejak Dini Hari
Informasi lain mengungkap bahwa kemungkinan pihak ketiga yang menangani switching dan monitoring transaksi telah mendeteksi aktivitas mencurigakan sejak dini hari.
Laporan pertama disebut dikirim ke Bank 9 sekitar pukul 02.37 WIB, namun tidak mendapat respons.
“Pihak switching sudah kirim report karena mendeteksi fraud, tapi tidak ada respon. Bahkan mereka sampai minta bank lain untuk blokir transaksi dari Bank 9,” kata sumber tersebut.
Dua bank yang disebut menerima aliran dana untuk deposit ke exchange adalah BSS dan Permata.
“Deposit ke exchange lewat dua bank itu. Pihak ketiga juga sudah kirim laporan diduga fraud, termasuk grafik transaksi namun tidak ada respon,” ujarnya.
Ia juga menyebut sebagian transaksi dalam jumlah besar masuk melalui bank lain sebelum diteruskan ke exchange.
“Transaksi paling besar lewat Bank Sampoerna,” katanya.
Call Center Terima Laporan Sejak Pukul 05.00 WIB
Keluhan kehilangan dana dari nasabah mulai masuk ke call center sekitar pukul 05.00 WIB. Namun, langkah resmi pemblokiran transaksi baru dilakukan beberapa jam setelahnya.
“Sekitar jam 8 pagi baru mulai ada surat ke bank lain untuk blokir transaksi. Padahal laporan sudah ada sejak dini hari,” ujar sumber tersebut
Pernyataan Dirut Jadi Sorotan
Pernyataan Direktur Utama Bank 9 yang menyebut ada keluarga atau kenalannya ikut menjadi korban turut memicu pertanyaan di internal tim investigasi.
“Pernyataan seperti itu justru jadi aneh, seolah memberi kesan bahwa pihak internal tidak mungkin terlibat. Padahal sampai sekarang belum ada data direksi yang terdampak, yang ada justru karyawan,” ujarnya.
Pola Serangan Diduga “Many to One”
Dari analisis teknis, pola transaksi yang digunakan pelaku dinilai rapi dan terstruktur. Sistem diduga menggunakan algoritma otomatis yang terus mencoba transfer hingga berhasil.
“Perintahnya sederhana, transfer sejumlah dana ke exchange, kalau berhasil ulangi, kalau gagal pindah ke rekening lain. Itu pola otomatis,” jelasnya.
Dalam dunia keamanan transaksi, pola ini dikenal sebagai skenario many to one, yaitu dana dari banyak rekening dikumpulkan ke satu atau beberapa tujuan utama.
“Dana dari banyak rekening dikumpulkan ke beberapa wallet utama, lalu dipusatkan lagi. Ini pola yang biasa dipakai dalam kejahatan finansial terorganisir,” katanya.
Dugaan Keterlibatan Internal Masih Didalami
Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi terkait pelaku utama. Namun, lambatnya respons, banyaknya transaksi yang lolos, serta pola terstruktur membuat dugaan keterlibatan internal masih didalami.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PPATK, dan aparat penegak hukum terus melakukan penelusuran terhadap seluruh wallet yang telah teridentifikasi.
Kasus ini menjadi salah satu dugaan peretasan perbankan terbesar di daerah, dengan nilai transaksi mencapai miliaran rupiah dan ribuan transaksi dalam waktu kurang dari satu hari.


