Jakarta — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian memanas setelah Iran dilaporkan menutup hampir sepenuhnya Selat Hormuz serta menyerang kapal tanker minyak. Situasi ini mengganggu pasar energi global dan memaksa produsen mencari jalur distribusi alternatif.
Salah satu rute alternatif yang digunakan adalah melalui Laut Merah. Saudi Aramco menyatakan akan mengalihkan jutaan barel minyak mentah melalui pipa menuju Pelabuhan Yanbu di wilayah barat Arab Saudi, alih-alih mengirimkannya melalui Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Menurut laporan CNN, volume pemuatan minyak harian di Pelabuhan Yanbu meningkat lebih dari dua kali lipat bulan ini dibandingkan rata-rata harian tahun lalu, berdasarkan data dari perusahaan analitik Kpler.
Namun, jalur alternatif tersebut kini juga menghadapi ancaman. Pada Senin (16/3), Iran menyebut fasilitas angkatan laut Amerika Serikat di Laut Merah sebagai target potensial.
“Kehadiran kapal induk AS Gerald R. Ford di Laut Merah dianggap sebagai ancaman bagi Iran,” kata komando militer gabungan Iran, seperti dilaporkan kantor berita Fars.
“Oleh karena itu, pusat logistik dan layanan yang mendukung kelompok angkatan laut tersebut di Laut Merah akan dianggap sebagai target potensial oleh angkatan bersenjata Iran,” lanjut pernyataan tersebut.
David Oxley, Kepala ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics, menyebut Laut Merah sejak awal bukan kawasan yang stabil secara geopolitik, bahkan sebelum pecahnya konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran pada 28 Februari lalu.
Sejak akhir 2023, militan Houthi yang didukung Iran telah menyerang kapal-kapal di Laut Merah sebagai respons atas perang Israel melawan Hamas. Kondisi ini memaksa perusahaan pelayaran mengalihkan rute melalui ujung selatan Afrika, yang berdampak pada waktu tempuh lebih lama dan biaya operasional yang meningkat.
United Kingdom Maritime Trade Operations juga memperingatkan bahwa tingkat ancaman di Laut Merah masih tinggi. “Kelompok tersebut mempertahankan kemampuan dan niat yang telah terbukti untuk melakukan serangan maritim di wilayah tersebut,” demikian bunyi peringatannya.
Seorang sumber Israel kepada CNN menyebut adanya indikasi potensi serangan lanjutan oleh militan, yang bisa menjadi eskalasi baru dalam konflik kawasan.
Tekanan pada Pasokan dan Harga Minyak
Dalam kondisi normal, pipa minyak timur-barat Arab Saudi mampu mengangkut hingga 7 juta barel per hari, sebagai alternatif dari sekitar 15 juta barel per hari yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Namun, meningkatnya ketegangan di Laut Merah berpotensi menghambat distribusi tersebut. Naveen Das, analis minyak senior di Kpler, memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal tanker di wilayah ini dapat memicu lonjakan harga minyak secara signifikan.
“Karena pada dasarnya ini memberi sinyal kepada pasar bahwa… semua jalur pelarian (untuk minyak) sedang menjadi sasaran… Tidak ada jalan keluar,” ujarnya.
Sementara itu, Oxley memperkirakan harga minyak mentah Brent dapat melonjak hingga kisaran US$130 hingga US$150 per barel dari level saat ini sekitar US$100, apabila pasokan benar-benar terganggu.
Kenaikan harga minyak yang berkepanjangan berpotensi memicu dampak luas terhadap perekonomian global, termasuk kenaikan biaya transportasi, tarif penerbangan, hingga harga bahan pangan.
Dampak terhadap Pelayaran Global
Di sisi lain, dampak terhadap kapal kontainer dinilai relatif terbatas karena sebagian besar operator telah menghindari Laut Merah sejak akhir 2023.
Peter Sand dari perusahaan analitik Xeneta memperkirakan sekitar 90 persen kapasitas pengiriman kontainer telah dialihkan melalui Tanjung Harapan.
Perusahaan pelayaran besar Maersk sempat berencana kembali menggunakan rute Laut Merah pada awal Januari, namun kembali menangguhkan operasinya pada awal Maret karena meningkatnya risiko keamanan.
Judah Levine dari Freightos menyebut situasi saat ini masih menghambat normalisasi jalur pelayaran global. Biaya asuransi kapal yang melintasi Laut Merah juga dilaporkan meningkat tajam sejak konflik memanas.
“Meskipun kami belum melihat serangan langsung dari pemberontak Houthi sejak konflik terbaru dimulai, ancaman tersebut cukup untuk menjauhkan kapal pengangkut kontainer,” ujar Sand.


