Jakarta — Aliansi G20 EMPOWER menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan.
Co-Chair G20 EMPOWER Indonesia, Rinawati Prihatiningsih, menyatakan bahwa kerja sama lintas sektor menjadi kunci agar upaya pemberdayaan perempuan dapat berjalan lebih terukur, inklusif, dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan International Women’s Day (IWD) 2026 yang diperingati pada Minggu (8/3).
“Aliansi G20 EMPOWER menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan jejaring Advocates global dalam mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan yang lebih terukur, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Rinawati dalam keterangan tertulis.
Menurut Rinawati, Aliansi G20 EMPOWER merupakan satu-satunya aliansi di lingkungan G20 yang secara terstruktur menghubungkan pemerintah dan dunia usaha guna mempercepat implementasi kebijakan serta mendorong aksi nyata bagi pemberdayaan ekonomi perempuan.
Sejak diluncurkan pada 2019, aliansi ini terus berkembang menjadi platform strategis di tingkat global. Perannya antara lain mendorong kepemimpinan perempuan, mendukung kewirausahaan perempuan, serta memperkuat ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.
Rinawati menambahkan bahwa Presidensi Indonesia pada 2022 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan aliansi tersebut.
Pada periode itu, perempuan pengusaha dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk pertama kalinya diangkat sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
“Hal ini dilakukan melalui penguatan berbagai inisiatif seperti Best Practice Playbook, Showcase Women-Led Businesses, dan KPI Dashboard G20 EMPOWER,” ujarnya.
Di bawah Presidensi Afrika Selatan, Aliansi G20 EMPOWER mengusung tema “UHURU – Women Building Sustainable Income and Financial Independence.”
Tema tersebut menitikberatkan pada tiga fokus utama, yaitu kepemimpinan perempuan, penguatan usaha milik perempuan serta pengadaan inklusif, dan perluasan inklusi digital serta STEAM.
Rinawati juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi perempuan dalam ekonomi global saat ini.
“Komunike 2025 menyoroti masih lebarnya kesenjangan pembiayaan bagi usaha perempuan, rendahnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan, serta pentingnya percepatan akses terhadap ekonomi digital,” ungkapnya.



