2. Rutin Bersepeda
Bersepeda, baik sebagai olahraga maupun sarana transportasi, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko ISK pada perempuan. Sebuah studi menemukan bahwa perempuan yang rutin bersepeda lebih sering melaporkan riwayat ISK dibandingkan mereka yang tidak.
Thomas Gaither, peneliti utama studi tersebut, menyebut salah satu teorinya adalah tekanan pada area genital saat bersepeda yang dapat mempermudah kontaminasi bakteri ke uretra.
3. Konsumsi Obat Tertentu
Beberapa jenis obat seperti antihistamin, dekongestan, antipsikotik, dan obat antikolinergik dapat menyebabkan retensi urine atau kesulitan mengosongkan kandung kemih. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko ISK.
Meski demikian, Rabin menegaskan pasien tidak perlu menghentikan konsumsi obat tanpa konsultasi medis. Meningkatkan asupan cairan dan memastikan kandung kemih benar-benar kosong setiap kali buang air kecil tetap menjadi langkah penting.
4. Cara Membersihkan yang Keliru
Cara membasuh atau menyeka area genital setelah buang air besar juga berpengaruh. Menyeka dari belakang ke depan dapat memindahkan bakteri dari anus ke uretra.
Sebuah studi pada perempuan pramenopause yang rentan ISK menunjukkan bahwa kebiasaan menyeka dari belakang ke depan meningkatkan risiko ISK hingga 64 persen. Sebagian besar infeksi disebabkan oleh bakteri E. coli yang hidup di usus.
Karena itu, menyeka dari depan ke belakang tetap menjadi prinsip dasar kebersihan untuk mencegah perpindahan bakteri.



