JAKARTA – Bawang putih merupakan salah satu bahan pokok dapur yang hampir selalu tersedia di rumah tangga. Karena sering digunakan dalam berbagai masakan Indonesia, banyak orang menyimpan bawang putih dalam jumlah cukup banyak. Namun, setelah disimpan dalam waktu lama, bawang putih kerap bertunas. Lantas, apakah bawang putih yang sudah bertunas masih aman dikonsumsi?
Bawang putih dikenal memiliki rasa dan aroma khas yang memperkaya cita rasa masakan. Saat disimpan terlalu lama, terutama dalam kondisi lembap, terkena cahaya, atau suhu panas berlebih, bawang putih bisa mulai mengeluarkan tunas hijau.
Apakah Bawang Putih Bertunas Berbahaya?
Menurut ahli diet Lizzy Swick, bawang putih yang sudah bertunas tetap aman dikonsumsi selama belum membusuk.
“Tunas hijau sebagian besar merupakan tanda usia dan bukan kualitas,” kata Lizzy Swick, dikutip dari Health.
Kekhawatiran terhadap bawang putih bertunas muncul dari sejumlah riset yang menyebutkan bahwa seiring pertambahan usia dan munculnya tunas, senyawa antioksidan tertentu dapat meningkat. Namun, yang perlu diwaspadai bukanlah tunasnya, melainkan tanda-tanda pembusukan.
Secara umum, bawang putih bertunas masih layak digunakan, meski rasanya bisa sedikit berbeda dibandingkan bawang putih segar.
Perbedaan Rasa Bawang Putih Bertunas
Bawang putih yang telah bertunas biasanya memiliki rasa lebih pahit atau lebih tajam. Rasa pahit ini akan lebih terasa saat bawang putih digunakan dalam olahan mentah seperti saus salad, pesto, atau sambal bawang.
Meski begitu, dalam masakan matang, perbedaan rasa tersebut sering kali tidak terlalu mencolok.
Kapan Bawang Putih Harus Dibuang?
Walau aman dikonsumsi, bawang putih sebaiknya tidak digunakan apabila sudah menunjukkan tanda-tanda berikut:
-
Muncul jamur atau pertumbuhan berbulu pada siung
-
Tekstur menjadi lunak, lembek, atau berlendir
-
Tercium bau asam atau busuk yang kuat
-
Siung terasa kosong atau kempes
Jika menemukan kondisi tersebut, sebaiknya bawang putih segera dibuang untuk menghindari risiko gangguan kesehatan.



