2. Terlalu Sering Memberi Pujian dan Hadiah
Pujian memang penting, tetapi jika diberikan berlebihan dan disertai hadiah terus-menerus, anak dapat bergantung pada validasi eksternal.
Akibatnya, anak melakukan sesuatu bukan karena kesadaran atau tanggung jawab, melainkan demi pengakuan. Motivasi seperti ini mudah goyah ketika pujian tidak lagi diberikan.
Berikan umpan balik yang spesifik dan objektif. Apresiasi usaha serta prosesnya, bukan hanya hasil akhir, agar anak belajar menghargai pencapaiannya dari dalam diri.
3. Menjadwalkan Aktivitas Secara Berlebihan
Keinginan memberikan yang terbaik sering membuat orang tua memenuhi jadwal anak dengan berbagai kursus dan kegiatan tambahan. Sekilas terlihat produktif, tetapi anak bisa kehilangan waktu bermain bebas.
Padahal, melalui aktivitas yang tidak terstruktur, anak belajar fokus, kreatif, dan mengenali minatnya sendiri. Terlalu banyak intervensi justru membatasi proses eksplorasi yang penting bagi perkembangan diri.
Anak juga membutuhkan waktu luang, bahkan untuk merasa bosan, karena dari situlah kreativitas kerap muncul.
4. Selalu Menyelesaikan Masalah Anak
Naluri melindungi sering mendorong orang tua untuk segera turun tangan ketika anak menghadapi konflik atau kesulitan. Padahal, masalah merupakan bagian dari proses belajar.
Jika selalu diselamatkan, anak tidak terbiasa mengambil keputusan atau menghadapi konsekuensi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat membuatnya kesulitan menghadapi tantangan di kehidupan nyata.
Orang tua sebaiknya berperan sebagai pendamping yang memberi arahan seperlunya. Dengarkan, dukung, lalu biarkan anak mencoba mencari solusi sendiri.



