Jakarta — Sejumlah pakar menilai cuaca ekstrem yang memicu badai salju di Amerika Serikat berkaitan erat dengan dampak perubahan iklim global.

Para ahli meteorologi menyebutkan sekitar dua pertiga wilayah timur Amerika Serikat berada dalam ancaman badai musim dingin. Fenomena ini dikaitkan dengan perubahan iklim yang memengaruhi pola atmosfer.

Sistem badai besar tersebut terbentuk akibat pusaran kutub yang memanjang. Kondisi itu dipicu gelombang di atmosfer bagian atas yang berasal dari wilayah Arktik dan Siberia yang tertutup salju. Ketika suhu dingin ekstrem menyapu Amerika Serikat, udara tersebut bertemu dengan uap air dari lepas pantai California dan Teluk Meksiko, sehingga memicu pembentukan es dan salju dalam jumlah besar di berbagai wilayah.

Pusaran kutub sendiri merupakan massa udara sangat dingin yang umumnya terperangkap di kawasan Kanada dan Alaska.

Ahli meteorologi sekaligus mantan kepala ilmuwan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional, Ryan Maue, menjelaskan proses terbentuknya fenomena tersebut. Menurutnya, sistem ini bermula dari wilayah Arktik yang mengalami suhu relatif lebih hangat.

“Atmosfernya selaras sempurna sehingga pola tersebut terkunci di Arktik yang hangat dan benua yang dingin ini,” kata Maue, dikutip dari The Independent, Kamis (22/1).

Ia menambahkan, kondisi dingin ekstrem tidak hanya terjadi di Amerika Utara. “Dan ini bukan hanya terjadi di Amerika Utara, tetapi daratan Eropa Timur hingga Siberia juga sangat dingin. Seluruh belahan bumi telah membeku.”

Sejak Oktober 2025, perubahan di wilayah Arktik serta berkurangnya es laut disebut menciptakan kondisi yang membentuk pusaran kutub memanjang, sehingga membawa cuaca musim dingin yang parah ke Amerika Serikat.

Pakar cuaca musim dingin Judah Cohen menilai hujan salju lebat di Siberia turut memperkuat tarik-menarik atmosfer yang mengubah bentuk pola udara. Biasanya, pola tersebut berbentuk lingkaran, namun kondisi ini meningkatkan peluang terjadinya peregangan pusaran kutub.

Sementara itu, ahli meteorologi dari National Weather Service, Allison Santorelli, memperingatkan bahwa badai ini akan membawa suhu yang sangat dingin.

“Salju dan es akan sangat, sangat lambat mencair dan tidak akan hilang dalam waktu dekat, dan itu akan menghambat upaya pemulihan apa pun,” ujarnya.

Badai salju telah melanda sebagian besar wilayah Amerika Serikat dan menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah daerah. Salju dilaporkan turun di Kansas, Texas, Missouri, Iowa, Oklahoma, Tennessee, serta beberapa wilayah lainnya pada Sabtu (24/1).

Di kawasan tenggara, Texas bagian timur, dan sebagian wilayah Louisiana, ketebalan salju dilaporkan mencapai sekitar 4 inci.

Berdasarkan data PowerOutage.us, hingga Sabtu siang waktu setempat, pemadaman listrik terjadi di hampir seluruh wilayah Amerika Serikat. Sekitar 130.000 pelanggan terdampak, termasuk 61.600 pelanggan di sejumlah wilayah tertentu.

Badan peramal cuaca National Weather Service (NWS) juga mengeluarkan peringatan terkait potensi badai salju besar dengan curah hujan yang telah berdampak di wilayah selatan-tengah Amerika Serikat sejak Sabtu siang. Pihaknya mengingatkan sekitar 160 juta warga berpotensi terdampak oleh cuaca ekstrem tersebut.