Apa yang terjadi pada tubuh saat mengalami tinitus?
Pada penderita tinitus, terutama yang bersifat kronis, tubuh dapat mengalami sejumlah perubahan, antara lain:
1. Otak keliru memproses suara
Otak menjadi lebih aktif dan menciptakan persepsi bunyi yang sebenarnya tidak ada akibat gangguan pada sistem pendengaran.
2. Tubuh berada dalam kondisi stres
Penderita tinitus kronis sering berada dalam kondisi siaga atau fight or flight. Hal ini ditandai dengan tubuh yang lebih tegang, pupil melebar, serta respons berlebihan terhadap suara.
3. Sensitivitas terhadap suara meningkat
Suara sehari-hari dapat terasa lebih mengganggu atau bahkan dianggap sebagai ancaman oleh tubuh.
4. Gangguan tidur
Bunyi yang terus-menerus muncul dapat membuat penderita sulit tidur, sering terbangun di malam hari, hingga mengalami insomnia.
5. Dampak emosional
Tinitus dapat memicu stres, kecemasan, kesulitan berkonsentrasi, dan pada beberapa kasus meningkatkan risiko depresi.
Apakah tinitus bisa disembuhkan?
Hingga kini, belum ada pengobatan yang benar-benar dapat menyembuhkan tinitus. Meski demikian, terdapat sejumlah terapi yang dapat membantu mengurangi atau mengelola gejalanya.
Beberapa pendekatan yang umum digunakan antara lain terapi suara, Cognitive Behavioral Therapy (CBT), serta Tinnitus Retraining Therapy. Respons terhadap terapi ini dapat berbeda pada setiap individu, sehingga penanganan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penderita.

