Jakarta – Istilah validator dan staking semakin sering digunakan dalam promosi investasi aset kripto. Namun dalam praktiknya, kedua istilah tersebut kerap disalahpahami, bahkan digunakan secara tidak tepat oleh pihak tertentu. Agar masyarakat tidak keliru, penting untuk memahami bagaimana validator bekerja secara resmi di jaringan blockchain, apa perbedaannya dengan staking, serta risiko yang menyertainya.

Dalam ekosistem Proof of Stake (PoS) dan turunannya, validator bukan sekadar skema investasi pasif, melainkan peran teknis yang diatur ketat oleh protokol jaringan blockchain itu sendiri.

Apa Itu Validator dalam Blockchain?

Validator adalah node atau entitas yang bertugas memverifikasi transaksi, memproduksi blok, dan menjaga konsensus jaringan pada blockchain berbasis PoS. Validator dipilih berdasarkan mekanisme protokol, umumnya melibatkan:

  • Jumlah aset kripto yang di-stake

  • Kinerja node (uptime, kejujuran, stabilitas)

  • Aturan konsensus masing-masing jaringan

Sebagai contoh, pada jaringan Ethereum, validator wajib mengunci 32 ETH dan menjalankan node aktif secara terus-menerus. Ketentuan ini tercantum dalam dokumentasi resmi Ethereum sejak transisi dari Proof of Work ke Proof of Stake.

Validator yang melanggar aturan atau mengalami gangguan serius dapat dikenakan slashing, yaitu pemotongan sebagian aset yang di-stake.