Jakarta — Ingin menikmati minuman bersoda tanpa rasa bersalah? Tak sedikit orang memilih diet soda sebagai alternatif soda biasa. Namun, apakah diet soda benar-benar lebih baik, khususnya untuk menjaga kadar gula darah? Berikut ulasannya.

Minuman soda dikenal memberikan sensasi “menggelitik” di lidah. Dipadukan dengan rasa manis dan disajikan dingin, soda kerap menjadi pilihan untuk menghilangkan dahaga sekaligus memanjakan lidah.

Meski demikian, banyak orang mulai membatasi konsumsi soda karena kandungan gulanya yang tinggi. Menjawab kekhawatiran tersebut, produsen menghadirkan diet soda yang diklaim rendah atau bahkan tanpa gula. Lantas, mana yang lebih baik bagi kadar gula darah?

Pengaruh Soda terhadap Kadar Gula Darah

Kadar gula darah secara alami akan meningkat setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung karbohidrat, yang kemudian dipecah menjadi gula oleh tubuh.

Gula cair dalam minuman soda cenderung lebih cepat diserap tubuh. Akibatnya, kadar gula darah dan produksi insulin dapat meningkat dalam waktu singkat.

Pada soda biasa, kandungan gula tambahannya tergolong tinggi. Dalam satu kaleng soda berukuran sekitar 345 mililiter, terdapat sekitar 10 sendok teh gula tambahan. Jumlah ini membuat soda biasa dapat dengan cepat meningkatkan kadar gula darah, terutama jika dikonsumsi saat perut kosong atau bersamaan dengan makanan berat.

Melansir Very Well Health, soda biasa juga tidak mengandung serat. Ketiadaan serat ini membuat penyerapan gula berlangsung lebih cepat. Konsumsi gula tinggi secara rutin dapat menyebabkan kadar gula darah rata-rata tetap tinggi dan berisiko mengarah pada diabetes.

Sementara itu, diet soda menggunakan pemanis buatan yang secara umum tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Setelah mengonsumsi diet soda, kadar gula darah biasanya cenderung tetap stabil.

Berdasarkan hal tersebut, diet soda dinilai lebih baik dibandingkan soda biasa jika dilihat dari dampaknya terhadap kadar gula darah. Meski begitu, ada sejumlah hal yang tetap perlu diperhatikan.

Beberapa studi menunjukkan pemanis buatan dapat memengaruhi mikrobioma usus. Studi lain juga menyebut konsumsi pemanis buatan berpotensi meningkatkan resistensi insulin dan berkontribusi pada kenaikan berat badan.

Para ahli tetap menekankan pentingnya memprioritaskan air putih atau minuman tanpa pemanis tambahan sebagai sumber hidrasi utama. Konsumsi soda biasa maupun diet soda sebaiknya tetap dibatasi, dengan diet soda lebih dianjurkan sebagai pengganti soda biasa, bukan untuk dikonsumsi berlebihan.