Di sisi lain akibat dari kondisi tersebut, kliennya juga mulai merasakan kesusahan bernafas. Karena belum ada perubahan, kliennya kembali menghubungi suster dari klinik DCB untuk meminta adanya perbaikan dan tindakan atas keadaan hidungnya. Kemudian, pada 29 September 2024, hidung kliennya kembali dioperasi untuk kedua kalinya di UCB.

“Meskipun telah dilakukan tindakan operasi kedua terhadap klien kami, ternyata hasilnya tetap sama saja dengan operasi pertama. Hidung klien kami tetap memerah dan menjadi sangat sensitif ketika disentuh. Bahkan setelah dicek, ternyata terdapat benang yang keluar dari ujung hidung dan juga mengeluarkan nanah,” paparnya.

Selanjutnya pada 8 Januari 2025, masih disampaikan Jhon, kliennya kembali ke klinik utama DBC untuk melakukan konsultasi sekaligus lepas implan sehubungan dengan adanya nanah yang keluar dari ujung hidungnya.

“Pada 19 Januari 2025, hidung klien kami sudah jelas terlihat cacat. Atas kondisi tersebut, ia kemudian menghubungi suster dari klinik utama Delliza untuk mempertanyakan penyebab dan juga cara mengatasi kondisi hidungnya tersebut. Adapun respon dari suster dari DBC, pada pokoknya menyatakan dan bahkan menjanjikan kalau hidung klien kami akan bagus dan lukanya akan hilang. Akan tetapi, faktanya sampai saat ini belum mengalami perubahan,” urai Jhon.