“Pada intinya hidung klien kami pun dioperasi oleh salah seorang dokter klinik utama DBC. Namun, pihak manajemen DCB tidak pernah diberitahu oleh siapa nama dokter yang akan melakukan operasi. Belakangan diketahui berdasarkan informasi dari beberapa orang dan admin klinik bahwa nama dokter yang melakukan tindakan operasi terhadap pengadu atas nama dokter Bayu,” terang Jhon.

Masalah muncul, pascatindakan operasi kliennya belum merasakan ada kejanggalan terhadap hidungnya. Setelah sepuluh hari pascaoperasi tersebut, kliennya mulai menemukan dan merasakan kemiringan pada bentuk hidungnya.

“Karena khawatir terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, kliennya kemudian menghubungi salah seorang suster dari klinik DBC untuk memastikan penyebab kondisi tersebut. Lalu suster klinik DBC menyatakan biasa apabila memang masih bengkak seperti itu pascaoperasi,” imbuhnya.

Ternyata setelah satu bulan berlalu pascaoperasi, lanjut Jhon, kondisi hidung kliennya tetap saja miring dan di ujungnya terlihat berwarna merah. Selain itu masih dalam keadaan bengkak dan juga mulai mengeluarkan nanah. Bahkan kondisi tersebut terjadi sampai tiga bulan kemudian.

Di sisi lain akibat dari kondisi tersebut, kliennya juga mulai merasakan kesusahan bernafas. Karena belum ada perubahan, kliennya kembali menghubungi suster dari klinik DCB untuk meminta adanya perbaikan dan tindakan atas keadaan hidungnya. Kemudian, pada 29 September 2024, hidung kliennya kembali dioperasi untuk kedua kalinya di UCB.

“Meskipun telah dilakukan tindakan operasi kedua terhadap klien kami, ternyata hasilnya tetap sama saja dengan operasi pertama. Hidung klien kami tetap memerah dan menjadi sangat sensitif ketika disentuh. Bahkan setelah dicek, ternyata terdapat benang yang keluar dari ujung hidung dan juga mengeluarkan nanah,” paparnya.