AS dan Iran Saling Kecam
Menanggapi gelombang demonstrasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan dukungannya kepada para demonstran Iran. Melalui media sosial, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat akan “siap membantu”.
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Trump memperingatkan otoritas Iran agar tidak menindak para demonstran. Ia mengatakan jika Iran mulai membunuh warganya seperti yang pernah terjadi di masa lalu, maka Amerika Serikat akan “ikut campur”.
Sementara itu, Putra Shah Iran yang kini tinggal di Amerika Serikat, Reza Pahlavi, mendesak warga Iran untuk menggelar aksi unjuk rasa secara lebih terarah dengan tujuan merebut dan menguasai pusat-pusat kota.
“Tujuan kita bukan lagi hanya turun ke jalan. Tujuannya adalah bersiap untuk merebut dan menguasai pusat-pusat kota,” kata Reza Pahlavi.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyebut para demonstran sebagai “perusak”. Ia juga meramalkan bahwa pemimpin Amerika Serikat yang dianggapnya “sombong” akan digulingkan seperti dinasti kekaisaran yang berkuasa di Iran sebelum Revolusi 1979.
“Semua orang tahu bahwa Republik Islam berkuasa dengan darah ratusan ribu orang terhormat; ia tidak akan mundur menghadapi para penyabotase,” ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding Amerika Serikat dan Israel melakukan “campur tangan secara langsung” dengan tujuan mengubah protes damai menjadi aksi yang memecah belah dan penuh kekerasan.



