Proyeksi IHSG Pekan Depan

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menilai penguatan IHSG yang sempat mencetak rekor tertinggi dengan menyentuh level 9.002 didorong oleh beberapa faktor utama.

Pertama, adanya arus dana asing masuk (net inflow) sepanjang sepekan terakhir yang mencapai Rp2,04 triliun di seluruh pasar. Kedua, kenaikan harga komoditas yang berfungsi sebagai safe haven turut mengerek kinerja saham-saham sektor mineral. Ketiga, pasar mulai berspekulasi terhadap potensi pembagian dividen tahunan oleh sejumlah emiten.

Meski demikian, Oktavianus memperkirakan IHSG berpeluang mengalami koreksi di awal pekan dan bergerak di kisaran level support 8.870 serta resistance 9.009.

“Pasar akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global dan domestik yang berpotensi menahan laju penguatan indeks,” ujar Oktavianus, Minggu (11/1).

Ia menjelaskan bahwa sentimen tersebut antara lain berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp16.800 per dolar AS. Di sisi lain, harga komoditas masih melanjutkan tren penguatan, dengan emas mencapai US$4.470 per ounce dan perak berada di level US$77 per ounce, yang dinilai akan berkorelasi positif terhadap emiten terkait.

Namun demikian, meningkatnya tensi geopolitik global juga menjadi perhatian investor. Konflik Rusia–Ukraina yang masih berlangsung, intervensi Amerika Serikat ke Venezuela hingga Greenland, serta gejolak internal di Iran dinilai berpotensi menekan harga komoditas energi dan pangan. Kondisi tersebut mendorong investor untuk lebih berhati-hati dan mengalihkan dana ke aset yang lebih aman.