Jakarta — Seorang pria mencoba menjalani diet One Meal a Day (OMAD) selama sepekan untuk melihat bagaimana pola makan ekstrem tersebut memengaruhi kondisi tubuhnya, mulai dari tingkat energi hingga perubahan berat badan. Pengalaman tersebut ia bagikan secara terbuka, dengan hasil yang tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi.

Diet OMAD merupakan salah satu bentuk intermittent fasting yang membatasi waktu makan hanya satu kali dalam sehari, umumnya dalam rentang satu jam. Setelah itu, tubuh menjalani puasa selama hampir 24 jam, meski tetap diperbolehkan mengonsumsi air putih atau minuman tanpa kalori seperti kopi dan teh tanpa gula.

Kreator konten kebugaran Will Tennyson menjadi salah satu yang mencoba pola makan ini. Melalui kanal YouTube miliknya, ia mendokumentasikan pengalaman menjalani diet OMAD selama tujuh hari tanpa menetapkan target kebugaran tertentu. Ia ingin melihat apakah berat badannya berubah serta bagaimana pengaruhnya terhadap rutinitas olahraga.

Tennyson mengawali diet dengan mengonsumsi satu porsi besar makanan setiap hari dan tetap menjalani latihan fisik seperti biasa. Pada awalnya, ia mengaku tidak terlalu merasakan dampak signifikan karena sudah terbiasa berolahraga dalam kondisi perut kosong.

Namun, kondisi tubuhnya mulai terasa benar-benar kelelahan saat harus mengikuti kelas olahraga sore hari setelah berlatih sejak pagi tanpa asupan energi. Ia bahkan terpaksa meninggalkan kelas karena merasa benar-benar kehabisan tenaga.

Selama beberapa hari pertama, pikirannya terus tertuju pada makanan. Ia biasanya baru makan sekitar pukul 6 sore, dan menjelang waktu tersebut rasa lapar semakin sulit dikendalikan. Situasi ini membuatnya cenderung ingin makan berlebihan saat waktu makan tiba.

Memasuki hari keempat, Tennyson mengakui diet OMAD belum terasa lebih mudah. Rasa lapar datang berulang kali, hingga ia meningkatkan konsumsi kafein dan memilih berjalan kaki atau minum kopi setiap kali keinginan makan muncul. Selain itu, pola makan ini juga menyulitkannya untuk bersosialisasi karena tidak bisa ikut makan bersama teman.

Pada hari kelima, ia mulai merasakan perubahan. Tennyson merasa lebih mampu membedakan antara rasa lapar yang sesungguhnya dan kebiasaan makan. Beberapa kali rasa lapar yang muncul ternyata hanya disebabkan oleh haus dan dapat diatasi dengan minum air atau kopi hitam.

Setelah tujuh hari menjalani diet OMAD, berat badan Tennyson tercatat turun sekitar 1,7 kilogram. Meski demikian, ia menyebut pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang sangat sulit untuk dijalani.

“Secara keseluruhan, diet ini tidak terlalu bagus. Itu terlalu ekstrem dan saya rasa tidak berkelanjutan bagi saya. Mungkin juga tidak bagi banyak orang,” ujarnya, dikutip dari Unilad.

Mengutip WebMD, diet OMAD bekerja dengan menurunkan kadar insulin selama periode puasa. Saat karbohidrat dikonsumsi, tubuh mengubahnya menjadi gula darah, dan kelebihan gula tersebut disimpan sebagai lemak dengan bantuan hormon insulin. Ketika tubuh berpuasa dalam waktu lama, kadar insulin menurun dan tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi, proses yang dikenal sebagai metabolic switch.

Sejumlah penelitian menunjukkan intermittent fasting, termasuk pola ekstrem seperti OMAD, dapat membantu penurunan berat badan pada sebagian orang. Penelitian tahun 2018 menyebut metode ini berpotensi memengaruhi berat badan dan metabolisme, meski bukti jangka panjangnya masih terbatas.

Di sisi lain, risiko diet OMAD juga menjadi perhatian. Beberapa studi mengaitkan kebiasaan makan satu kali sehari dengan peningkatan tekanan darah, kolesterol, serta lonjakan kadar gula darah. Penelitian pada 2022 bahkan menemukan kaitan antara pola makan ini dengan risiko kematian lebih tinggi akibat penyakit kardiovaskular.

Selain sulit dipertahankan dalam jangka panjang, diet OMAD juga berisiko memicu rasa lapar berlebihan, kelelahan, pusing, hingga gangguan pencernaan, terutama bagi penderita diabetes atau penyakit jantung.

Para ahli menyarankan siapa pun yang tertarik mencoba diet OMAD untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis. Pola makan ekstrem tidak selalu cocok untuk semua orang, dan dampaknya sangat bergantung pada kondisi tubuh masing-masing individu.