Jakarta — Kabar baik bagi wisatawan yang berencana menikmati musim bunga sakura di Jepang. Tahun 2026 disebut menjadi momen yang lebih ramah di kantong, menyusul turunnya biaya perjalanan secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Harga tiket pesawat, hotel, hingga paket tur ke Jepang dilaporkan mengalami penurunan sekitar 10 hingga 20 persen dibandingkan 2025. Kondisi ini membuka peluang bagi wisatawan untuk menikmati liburan musim sakura dengan anggaran yang lebih terjangkau.

Pendiri perusahaan perjalanan Tourist Japan, Ben Julius, mengungkapkan bahwa penurunan harga paling terasa di kota-kota tujuan favorit wisatawan, seperti Kyoto dan Osaka. Tren harga yang lebih rendah ini diperkirakan akan bertahan hingga periode puncak musim sakura pada Maret dan April.

Menurutnya, ada beberapa faktor utama yang mendorong turunnya biaya liburan ke Jepang pada 2026. Salah satunya adalah nilai tukar yen yang masih rendah. Per 19 Januari 2026, nilai tukar yen berada di kisaran 122,56 yen per dolar AS, sehingga memberikan daya beli yang lebih besar bagi wisatawan asing.

Faktor lain adalah ketersediaan kamar hotel yang masih cukup melimpah. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, banyak hotel populer masih memiliki stok kamar, yang membuat harga menjadi lebih kompetitif.

Mengutip Straits Times, anjloknya jumlah wisatawan asal China turut menjadi faktor penting. Ketegangan hubungan diplomatik antara Tokyo dan Beijing terkait isu Taiwan mendorong China memangkas jadwal penerbangan ke Jepang hingga Maret mendatang.

Sebagai perbandingan, paket tur 16 hari saat puncak musim sakura yang ditawarkan Tourist Japan pada 2025 dibanderol sebesar US$4.850 atau sekitar Rp76 juta. Untuk periode Maret 2026, paket serupa dengan fasilitas yang sama kini dijual seharga US$3.783 atau sekitar Rp59 juta, atau turun sekitar 22 persen.