Jakarta — Kopi dikenal sebagai minuman yang mengandung kafein serta berbagai antioksidan, seperti flavonoid, polifenol, dan asam klorogenat. Selain itu, kopi juga mengandung mineral, vitamin, trigonelin, sukrosa, serta senyawa diterpen.

Kandungan tersebut membuat kopi kerap dikonsumsi sehari-hari oleh banyak orang. Namun, muncul pertanyaan: apakah minum kopi benar-benar bisa melindungi diri dari depresi?

Saat ini tersedia berbagai obat untuk mengatasi depresi, tetapi tidak semuanya memberikan hasil yang efektif bagi setiap individu. Kafein dalam kopi kerap disebut memiliki efek perlindungan terhadap depresi. Untuk mengetahui kebenarannya, berikut penjelasan yang dirangkum dari laman Medical News Today.

Apakah Minum Kopi Bisa Melindungi dari Depresi?

Kafein diketahui dapat memblokir reseptor adenosin, sehingga menurunkan kadar adenosin dalam tubuh. Konsumsi kopi secara teratur disebut dapat memberikan perlindungan terhadap depresi. Namun, kondisi ini dikenal sebagai paradoks kopi.

Para peneliti saat ini masih menyelidiki cara mengatasi paradoks tersebut, salah satunya dengan mengurangi konsumsi kafein sebelum menjalani perawatan, namun tetap mempertahankan efek perlindungan dari kopi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 5,7 persen orang dewasa di dunia atau setara dengan 332 juta orang mengalami depresi. Pada banyak kasus, obat resep standar mampu meredakan gejala, tetapi bagi sebagian orang yang tidak merespons pengobatan rutin, diperlukan pendekatan lain.

Mengapa Kafein Disebut sebagai Paradoks Kopi untuk Depresi?

Kafein merupakan zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia dan berperan sebagai antagonis reseptor adenosin. Pertanyaannya, apakah kafein dapat menghambat efektivitas pengobatan depresi tertentu, seperti ketamin?

Menurut Ma-Li Wong, MD, PhD, seorang psikiater dari Genomic Press, New York, ketamin dan terapi elektrokonvulsif (ECT) biasanya digunakan ketika obat antidepresan standar tidak lagi efektif.

“Kafein memblokir reseptor adenosin dan penelitian menunjukkan hal ini sebenarnya dapat mengganggu efek antidepresan ketamin dan ECT—setidaknya pada hewan percobaan, dan kemungkinan juga pada manusia,” kata Wong.

Penelitian menunjukkan bahwa efek antidepresan muncul akibat lonjakan adenosin, yaitu molekul pemberi sinyal dalam tubuh manusia yang memiliki berbagai fungsi penting. Adenosin berperan dalam melebarkan pembuluh darah, mengatur sistem saraf simpatik, menurunkan tekanan darah dan detak jantung, serta memengaruhi suasana hati.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, para peneliti menggunakan model tikus untuk mengidentifikasi pensinyalan adenosin sebagai jalur utama yang mendasari efek antidepresan ketamin dan ECT.