Jakarta — Fenomena banjir rob kini menjadi bagian dari keseharian warga pesisir utara Jakarta. Tanpa hujan deras atau badai, air laut masuk ke rumah-rumah, merendam jalanan, serta memaksa warga meninggikan lantai dan memindahkan perabot.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, kondisi tersebut menegaskan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas yang dihadapi saat ini.

Dampak krisis tersebut tidak berhenti di wilayah pesisir. Aktivitas di darat, mulai dari pengelolaan sungai, tata kota, industri, hingga pola konsumsi, turut menentukan kesehatan laut. Kesadaran akan keterhubungan inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Bali Ocean Days 2026.

Forum internasional tersebut akan mengangkat tema “Navigating Solutions for a Regenerative Ocean Future” dan dijadwalkan berlangsung di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, pada 30–31 Januari 2026.

Memasuki edisi ketiganya, Bali Ocean Days menjadi forum tahunan yang mempertemukan pembuat kebijakan, ilmuwan, pelaku usaha, serta organisasi masyarakat sipil untuk membahas isu keberlanjutan laut dan kawasan pesisir.

“Masalah laut adalah masalah kita semua. Karena itu penyelesaiannya juga harus lintas sektor dan masuk dalam kebijakan publik,” kata Ketua Panitia Bali Ocean Days 2026 sekaligus Chair of the Board of Management Sky Blue Sea Foundation, Yoke Darmawan.

Berbeda dengan banyak konferensi lingkungan yang berhenti pada pernyataan bersama, Bali Ocean Days dirancang sebagai forum berkelanjutan. Dua penyelenggaraan sebelumnya pada 2024 dan 2025 melibatkan sekitar 70 organisasi, mulai dari lembaga multilateral, kementerian dan institusi publik Indonesia, universitas, hingga pelaku di sektor konservasi, pengolahan sampah, teknologi bersih, pembiayaan berdampak, energi terbarukan, dan ekowisata.

Pada 2026, skala forum dibuat lebih terkurasi. Sekitar 40 organisasi dan institusi dari Indonesia serta berbagai negara, antara lain Fiji, Papua Nugini, Seychelles, Malaysia, Filipina, Hong Kong, Australia, Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman, dijadwalkan hadir. Jumlah peserta dibatasi sekitar 200 orang dengan fokus pada pengambil keputusan dan pelaksana langsung di lapangan.

Sejumlah pejabat setingkat menteri dari Indonesia, Fiji, dan Papua Nugini, serta utusan khusus Presiden Seychelles dijadwalkan menghadiri forum ini. Bagi negara-negara kepulauan tersebut, kenaikan muka laut dan perubahan iklim telah menjadi isu keberlanjutan negara, bukan lagi agenda jangka panjang.

Indonesia menghadapi kerentanan serupa. Banyak kawasan perikanan dan destinasi wisata nasional berada hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Dalam konteks ini, isu kelautan tidak lagi semata soal lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan ekonomi, ketahanan pangan, dan stabilitas sosial.

Program Bali Ocean Days 2026 disusun dalam enam rumpun diskusi yang saling terhubung. Pembahasan mencakup posisi negara-negara kepulauan di garis depan krisis iklim, perkembangan sains kelautan dan teknologi maritim, ekowisata dan pelestarian terumbu karang, perikanan berkelanjutan dan perlindungan spesies terancam punah, pemberdayaan serta pendidikan masyarakat pesisir, hingga pengolahan sampah dan pengurangan polusi plastik laut.

Selama dua hari pelaksanaan, lebih dari 40 pembicara dan peserta pameran dari berbagai negara dijadwalkan hadir, mewakili pemerintah, institusi riset, organisasi multilateral, LSM, dan sektor swasta. Forum ini juga menghadirkan belasan inisiatif serta perusahaan rintisan di bidang ekonomi sirkular dan teknologi lingkungan.

Untuk pertama kalinya, Bali Ocean Days akan menjadi tuan rumah side event SEA-MaP, program regional yang didukung Bank Dunia, ASEAN, dan GIZ. Program ini bertujuan mendorong harmonisasi kebijakan pengurangan sampah plastik di Asia Tenggara.

Bali Ocean Days digagas oleh Sky Blue Sea Foundation bersama Darmawan & Associates. Sejak awal, forum ini dirancang sebagai ruang kerja intensif melalui diskusi tematik, business matching, dan pitching, agar gagasan yang dibahas memiliki peluang lebih besar untuk diwujudkan.

Di tengah laju kenaikan permukaan laut dan tekanan terhadap ekosistem pesisir, forum ini tidak menjanjikan solusi instan. Namun bagi negara-negara kepulauan, termasuk Indonesia, waktu menjadi faktor krusial yang tidak bisa terus ditunda.

Informasi lebih lanjut terkait tiket konferensi Bali Ocean Days 2026 dapat diakses melalui Megatix.