Satire Tidak Selalu Dipahami Pasal
Anak muda punya cara bicara sendiri. Mereka terbiasa dengan simbol, ironi, dan humor gelap. Satire menjadi alat untuk menyampaikan kritik tanpa berteriak. Sayangnya, bahasa seperti ini sering kali tidak akrab dengan logika hukum yang kaku.
Apa yang dimaksudkan sebagai sindiran, bisa dibaca sebagai serangan. Apa yang diniatkan sebagai kritik kebijakan, bisa dipersepsikan sebagai persoalan personal. Dari sini, ruang abu-abu terbuka lebar.
Akibatnya, banyak yang mulai menahan diri. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena sadar risikonya nyata.
Demokrasi yang Ramai, Tapi Hati-hati
Secara angka, demokrasi digital tampak hidup. Timeline ramai, diskusi berlangsung, opini berseliweran. Namun di balik keramaian itu, ada kehati-hatian yang tumbuh diam-diam.
Anak muda mulai menyunting pikirannya sendiri sebelum menekan tombol unggah. Kata-kata dipilih bukan berdasarkan ketepatan, melainkan keamanan. Kritik dikemas lebih lunak, atau ditunda, atau akhirnya disimpan saja.
Demokrasi memang tidak mati. Tapi ia belajar berbicara pelan.
Literasi Bukan Sekadar Bijak Bermedia Sosial
Sering kali, solusi yang ditawarkan adalah imbauan agar anak muda lebih bijak bermedia sosial. Tidak emosional, tidak reaktif, tidak berlebihan. Imbauan ini masuk akal, tapi tidak cukup.
Yang juga dibutuhkan adalah kepastian batas. Kritik seperti apa yang dilindungi? Satire sejauh apa yang dianggap wajar? Tanpa kejelasan itu, ruang publik digital akan terus menjadi arena spekulasi—siapa aman, siapa rawan.
Dalam situasi seperti ini, keberanian berubah menjadi perhitungan. Aktivisme tidak lagi soal gagasan, melainkan soal kemungkinan terburuk.


