“Limbah FABA yang dihasilkan oleh pembangkit listrik berbahan bakar batubara termasuk abu terbang (fly ash) dan abu dasar tungku (bottom ash), mengandung partikel halus dan unsur logam berat yang bila terlepas ke lingkungan dapat memicu iritasi pada mata, kulit, saluran pernapasan, serta mencemari tanah atau air tanah.

Apabila limbah tersebut ditimbun di jalan warga tanpa pengamanan dan tanpa sosialisasi, maka risiko paparan kepada warga meningkat—misalnya debu terbang, kontaminasi air hujan yang mengalir ke pemukiman, dan kemungkinan drainase tersumbat.”

Terkait hal ini, warga mendesak Pemerintah daerah segera melakukan investigasi terhadap kegiatan perusahaan tersebut, menerapkan prinsip kehati-hati dalam pengelolaan limbah, dan memastikan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi dan partisipasi terpenuhi.

Dengan adanya aksi warga yang menghentikan saat itu juga, muncul tekanan agar lembaga pengawas lingkungan dan instansi terkait segera mengambil tindakan preventif dan penegakan hukum bila terbukti pelanggaran. (*)