Menguasai Bahasa Belanda dan Bahasa Suku Indian
Salah satu alasan utama pengangkatannya adalah karena Thomas Willet fasih berbahasa Belanda serta memahami bahasa lokal suku Indian.
Kemampuan ini membuatnya menjadi sosok penting dalam menjembatani komunikasi antara pendatang Eropa dan penduduk asli.
Mengutip laman rampagelaw.com, saat itu banyak warga Belanda yang tinggal di wilayah tersebut, sehingga kota New York sempat dikenal dengan nama New Amsterdam.
Sebagian besar dari mereka adalah pedagang bulu yang tergabung dalam Perusahaan Dagang Belanda (VOC).
Karena penguasaan bahasanya yang luas, Willet sering ditugaskan mendampingi rombongan negosiasi ke wilayah utara, termasuk ke Iroquois, untuk menjaga hubungan baik antara suku Indian dengan pemerintah Belanda yang kemudian beralih ke Inggris.
Thomas Willet, Sang Pedagang Bulu
Willet sendiri dikenal sebagai seorang pedagang bulu, profesi yang populer di kalangan pendatang Eropa pada abad ke-17.
Pada masa itu, banyak warga Eropa datang ke benua Amerika untuk mencari bulu binatang yang digunakan sebagai bahan pakaian dan perlengkapan musim dingin.
Menurut Economic Historian Association, masyarakat Indian biasanya memperdagangkan bulu binatang kecil seperti cerpelai untuk ditukar dengan pisau, produk logam, atau tekstil.
Awalnya, pertukaran ini dilakukan secara sederhana, namun pada akhir abad ke-16, perdagangan bulu berkembang pesat seiring meningkatnya tren topi berang-berang di Eropa.
Permintaan tinggi terhadap bulu berkualitas membuat perdagangan berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Kanada, meskipun aktivitas serupa juga terjadi di sepanjang Sungai Mississippi dan Pegunungan Rocky.



