Selain itu, mereka juga menuntut penggantian kerugian penuh, baik secara material maupun non-material, serta transparansi penggunaan anggaran kegiatan yang melibatkan komunitas seni.
“Kami menuntut kompensasi atas kerugian non-material akibat rusaknya integritas karya dan nama baik Teater Bhavana,” tulis pernyataan itu.
Teater Bhavana juga mendesak Dinas Kebudayaan membentuk forum dialog permanen dengan komunitas seni lokal untuk merumuskan standar operasional pelaksanaan kegiatan budaya yang adil dan partisipatif.
“Kami menuntut jawaban dan tindakan nyata, bukan sekadar janji atau klarifikasi retoris. Peristiwa ini harus menjadi titik balik: martabat pelaku seni daerah wajib dihormati dan dilindungi,” tutup pernyataan tersebut. (*)



