Minimnya Antibisa Jadi Ancaman Serius

Kasus kematian tujuh warga Baduy terjadi karena mereka tidak mendapatkan suntikan antibisa ular (ABU). Beberapa tidak segera dibawa ke fasilitas kesehatan, sementara lainnya karena stok ABU kosong di Kabupaten Lebak.

“Data ini menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk merancang mitigasi konflik manusia-ular, termasuk penyediaan antibisa,” kata Prof. Amir.

Dr. Maharani dalam sesi daring bersama praktisi toksikologi pada Agustus lalu, menekankan pentingnya produksi antibisa spesifik.

“Fokusnya harus pada jenis ular yang paling sering menggigit, agar bisa antibisa diprioritaskan,” ujarnya.

Menurut WHO, gigitan ular adalah “penyakit yang terabaikan” karena minimnya perhatian dunia terhadap risikonya. Satu-satunya obat yang efektif adalah antibisa, namun ketersediaannya di Indonesia sangat terbatas.

Produksi Antibisa Lokal Masih Terbatas

PT Bio Farma merupakan satu-satunya produsen ABU di Indonesia, dengan kemampuan produksi hanya sekitar 40.000 ampul per tahun. Jumlah ini sangat jauh dari kebutuhan nasional yang mencapai ratusan ribu kasus per tahun.

ABU lokal (Biosave) saat ini hanya dapat menangani bisa dari:

  • Kobra Jawa

  • Welang (Bungarus fasciatus)

  • Ular tanah

Untuk ular hijau (green viper) dan jenis berbisa lainnya, antibisa masih diimpor dari Thailand atau Australia.

Namun, Kemenkes telah memberi lampu hijau bagi pihak swasta untuk memproduksi antibisa. Biotis Pharmaceutical disebut siap berkolaborasi untuk mengembangkan ABU jenis baru.