Konflik Ular dan Manusia Terjadi di 38 Provinsi
Tak hanya di Banten, kasus konflik manusia dengan ular terjadi di 38 provinsi. Temuan ini berdasarkan studi herpetologi yang dipublikasikan di Jurnal Taprobanica pada Juni lalu.
Studi tersebut mendata laporan dari media massa dan media sosial mengenai penemuan ular, anak ular, telur, maupun serangan terhadap manusia, melibatkan 109 spesies, 56 genus, dan 12 famili ular.
Saat ini, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 370 spesies ular, dan 70 di antaranya adalah ular terestrial berbisa.
Jawa Barat menjadi wilayah dengan laporan terbanyak, disusul oleh provinsi lain di Pulau Jawa. Ular sanca batik (Malayopython reticulatus) menjadi spesies paling sering ditemukan, sementara kobra Jawa paling sering dibunuh dalam konflik manusia-ular.
Ular tanah dan ular hijau (Trimeresurus insularis) juga menjadi penyebab umum gigitan selain kobra.
“(Dengan media sosial) pelaporan kini jauh lebih mudah, maka tampak jumlah kasus naik pesat,” kata Prof. Amir Hamidy, herpetolog dari BRIN yang turut menulis studi tersebut.
Perubahan Iklim Picu Peningkatan Konflik
Prof. Amir menjelaskan bahwa suhu dan kelembaban yang meningkat karena perubahan iklim telah mendorong populasi ular dan kasus konflik dengan manusia.
“Sebelum pandemi, sudah banyak muncul anakan kobra di permukiman. Itu karena suhu dan kelembaban tinggi,” ujarnya kepada CNN Indonesia.
Studi dari Universitas Emory yang dipublikasikan dalam jurnal GeoHealth (2023) menyimpulkan bahwa setiap kenaikan suhu 1°C, dapat meningkatkan kemungkinan gigitan ular hingga 6%.



