Skandal Korupsi Proyek Banjir

Filipina tengah diguncang skandal korupsi proyek pengendalian banjir. Dana bernilai miliaran peso diduga dikorupsi lewat proyek fiktif, meski program sudah berjalan sejak 2022.

Investigasi dimulai setelah sejumlah wilayah tetap terendam banjir meski proyek mitigasi dijalankan. Dugaan penyelewengan dana publik pun mengemuka.

Presiden Ferdinand Marcos Jr. atau Bongbong menegaskan skandal ini telah mengancam nyawa warga di daerah rawan banjir. Ia mengungkap hanya 15 dari 2.409 kontraktor terakreditasi yang mendapat alokasi anggaran senilai 100 miliar peso untuk proyek mitigasi banjir dari Juli 2022 hingga Mei 2025.

Dua dari 15 kontraktor tersebut adalah perusahaan milik keluarga Discaya: Alpha & Omega Gen. Contractor & Development Corp. dan St. Timothy Construction Corporation.

Bongbong Bentuk Badan Independen

Untuk menindaklanjuti kasus ini, Bongbong menyatakan akan membentuk badan independen guna menyelidiki dugaan korupsi proyek banjir.

Staf kantor komunikasi presiden, Claire Castro, mengatakan Bongbong sedang merampungkan perintah eksekutif untuk membentuk komisi tersebut.

“Apa yang diinginkan Presiden adalah komisi independen yang diberi kekuatan dan wewenang penuh sehingga bisa menjalankan mandatnya secara optimal,” ujarnya, dikutip dari Inquirer.

Komisi independen itu nantinya memiliki kewenangan untuk memanggil pihak terkait, meminta dokumen, hingga menyita bukti fisik. Individu yang menolak panggilan bisa didakwa penghinaan tidak langsung dengan ancaman hukuman hingga enam bulan penjara.