Sejarah Pahit: Belajar dari Revitalisasi yang Gagal
Kegagalan revitalisasi bukan sekadar teori, banyak pasar di Indonesia yang dihitung pekerjaan sukses secara fisik, tapi gagal menjaga pasar sebagai ruang hidup:
• Pasar Turi, Surabaya (2007–2015): Setelah dibangun dengan konsep modern, banyak pedagang lama tak mampu bertahan karena harga kios tinggi dan konflik berkepanjangan antara pengembang, pemerintah, dan pedagang. Pasar legendaris itu pun kehilangan denyut ekonominya.
• Pasar Johar, Semarang: Usai kebakaran, pasar dibangun kembali secara megah. Sayangnya biaya sewa kios melonjak sehingga gedung besar tampak sepi, sementara pedagang kecil memilih berjualan di pinggir jalan.
• Pasar Klewer, Solo: Pasca revitalisasi, suasanan pasar batik justru kehilangan atmosfirnya. Pengunjung menurun, interaksi sosial memudar, budaya runtuh di tengah gemerlap fisik.
Kegagalan-kegagalan itu menunjukkan bahwa revitalisasi yang hanya mengutamakan struktur fisik dan estetika ternyata tidak cukup tanpa memperhatikan ruang hidup, biaya, dan kebutuhan pedagang serta pengunjung.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa jumlah pasar tradisional di Indonesia terus menurun, sementara pasar modern meningkat 8–10 persen setiap tahun.


