Masalah tak hanya berhenti di pangan. Ongkos transportasi juga memberikan tekanan pada anggaran Lukman. Ia menghabiskan hingga Rp100 ribu per minggu untuk perjalanan ke kantor.

Dengan meningkatnya biaya, Lukman memilih transportasi publik alih-alih menggunakan kendaraan pribadi atau ojek online, meski harus menempuh jarak lebih jauh dan waktu lebih lama.

“Dulu, biaya bensin sekitar Rp70 ribu-Rp100 ribu per minggu karena menggunakan Pertamax. Sekarang, hanya keluar Rp50 ribu dengan sering menggunakan bus Transjakarta,” ujarnya.

Kisah serupa dialami Sakti Darma (25), seorang pegawai dengan gaji di atas upah minimum provinsi (UMP). Ia mulai merasakan kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kenaikan harga kebutuhan.

Untuk mengatasi situasi ini, Sakti mengatur pengeluaran, termasuk mengurangi frekuensi makan. Sebagai anak kos, ia biasanya menghabiskan hingga Rp50 ribu per hari untuk makan dari luar.

“Sekarang, saya hanya makan dua kali sehari, menggabungkan sarapan dengan makan siang,” katanya, sambil menambahkan bahwa dia juga menghentikan langganan berbagai layanan hiburan.

Sakti yang saat ini bertanggung jawab sebagai generasi sandwich, terpaksa merelakan beberapa aplikasi hiburan, termasuk Spotify dan layanan streaming lainnya.