Jakarta — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menjelaskan bahwa pemanggilan TikTok dan Meta bukanlah untuk membahas masalah sensor konten terkait aksi demo, melainkan untuk membahas moderasi konten secara keseluruhan.
“Sebenarnya itu lebih kepada moderasi konten. Ini sudah berlangsung cukup lama dan tidak berhubungan langsung dengan aksi demo,” ujar Nezar saat menemui wartawan di Kantor Komdigi, Jakarta, pada Jumat (29/8).
Nezar menekankan bahwa moderasi konten yang dimaksud berkaitan dengan penanganan konten negatif, termasuk perjudian online dan materi lain yang melanggar hukum.
Ia menambahkan bahwa komunikasi dengan platform mengenai moderasi konten bukanlah hal baru dan sudah dilakukan sejak lama.
Sebelumnya, Wamenkomdigi Angga Raka Prabowo menyatakan bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital berencana memanggil TikTok dan Meta untuk membahas pentingnya menanggulangi konten provokatif yang beredar.
“Saya sudah menghubungi Kepala TikTok untuk Asia Pasifik, Helena, dan meminta mereka datang ke Jakarta untuk membicarakan fenomena ini. Kami juga telah berkomunikasi dengan TikTok Indonesia serta Meta Indonesia,” jelas Angga pada hari Selasa (26/8).
Pernyataan ini dikeluarkan sehari setelah aksi demo di depan Gedung DPR, Jakarta.
Menurut Angga, konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) di platform digital dapat merusak fondasi demokrasi.
“Fenomena DFK ini bisa mengganggu penyampaian aspirasi masyarakat, karena gerakan yang muncul bisa dipengaruhi oleh konten-konten tersebut,” ungkapnya.
Mengenai konten DFK, Angga menegaskan bahwa platform menggunakan sistem dan teknologi kecerdasan buatan (AI) seharusnya dapat menyaring dan menghapus konten yang tidak benar.
Ia menekankan bahwa penghapusan konten bukanlah aksi untuk membatasi kebebasan berekspresi, melainkan dilakukan untuk mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan dan provokatif.
“Menyampaikan aspirasi dan pendapat itu sah dalam konteks demokrasi, asalkan tetap berada dalam batasan yang baik dan tidak mengarah pada tindakan anarkis,” tandasnya.
Angga juga memberikan contoh, “Jika ada klaim terjadinya kebakaran di suatu lokasi, tetapi kenyataannya tidak ada, itu dapat membuat situasi menjadi kacau.”