Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah didorong oleh sentimen risk-on yang muncul setelah meningkatnya prospek pemangkasan suku bunga oleh The Fed, sejalan dengan sikap “less hawkish” yang disampaikan oleh Powell dalam simposium Jackson Hole.

Meski demikian, Lukman memperkirakan penguatan ini tidak akan bertahan lama, mengingat adanya potensi aksi jual dari investor.

“Rupiah diprediksi akan menghadapi kesulitan untuk kembali menguat dan berpotensi terkoreksi akibat profit taking,” ungkap Lukman kepada pada Senin (25/8).

Ia menambahkan bahwa sikap dovish The Fed tidak akan terus menekan dolar AS. Selain itu, para investor juga sedang menunggu data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini, yang dapat menjadi acuan dalam penentuan suku bunga ke depan.

Lukman memperkirakan, rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.200-Rp16.350 pada perdagangan esok hari.