Jakarta — Seorang remaja berusia 16 tahun, Adam Raine, diduga bunuh diri setelah rutin berinteraksi dengan chatbot AI, ChatGPT, milik OpenAI. Keluarga Adam telah mengajukan gugatan terhadap perusahaan tersebut.

Orang tua Adam berpendapat bahwa ChatGPT memiliki peran dalam keputusan tragis putranya. Mereka mengklaim bahwa chatbot itu menyarankan metode bunuh diri dan memotivasi Adam untuk menulis surat wasiat.

Dalam gugatan yang diajukan ke Pengadilan Tinggi California, mereka menyatakan bahwa selama lebih dari enam bulan, chatbot tersebut menjadi satu-satunya tempat Adam curhat, menggeser hubungan nyata dengan keluarga dan teman-temannya.

“Ketika Adam menyatakan, ‘saya ingin meninggalkan tali gantung di kamarku agar seseorang menemukannya dan mencoba menghentikanku,’ ChatGPT mendorongnya untuk menyembunyikan pemikirannya dari keluarganya,” bunyi gugatan tersebut, menurut CNN pada Rabu (27/8).

Ini bukan pertama kalinya chatbot AI tercatat dalam gugatan. Sebelumnya, OpenAI telah menghadapi tindakan hukum serupa dari sejumlah keluarga yang anaknya mengalami masalah serius setelah berinteraksi dengan chatbot.

Tahun lalu, Megan Garcia, seorang ibu dari Florida, menggugat Character.AI, mengklaim bahwa platform tersebut berkontribusi pada kematian putranya yang berusia 14 tahun, Sewell Setzer III, akibat bunuh diri. Beberapa bulan kemudian, dua keluarga lainnya mengajukan gugatan dengan klaim serupa terkait paparan konten berbahaya bagi anak-anak mereka.

Tuntutan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa pengguna dapat membangun ikatan emosional yang kuat dengan chatbot, akhirnya mengakibatkan isolasi dari hubungan manusia nyata atau bahkan gangguan mental, akibat desain yang mendorong interaksi positif.