Jakarta — Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengumumkan bahwa pengerjaan tahap Front End Engineering and Design (FEED) untuk proyek Blok Gas Masela, dengan investasi mencapai US$20,94 miliar atau sekitar Rp342,21 triliun, resmi dimulai. Proyek ini dioperasikan oleh INPEX, perusahaan minyak dan gas asal Jepang, melalui anak usahanya, INPEX Masela, Ltd.

Yuliot menjelaskan bahwa setelah tahap konstruksi dimulai, proyek gas raksasa ini diperkirakan akan menyerap sekitar 12 ribu tenaga kerja. “Dalam fase pengembangan, proyek ini diharapkan dapat menyerap sekitar 12.611 tenaga kerja,” tambahnya saat peresmian fase FEED Proyek LNG Abadi di Hotel Mulia, Jakarta, pada Kamis (28/8).

Penting untuk dicatat bahwa penyerapan tenaga kerja akan lebih mengutamakan pekerja lokal, guna mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah sekitar. “Kami berharap multiplier effect dari proyek ini bisa memberikan dampak positif yang terasa oleh masyarakat,” jelas Yuliot.

Dia juga berharap proyek ini akan mulai beroperasi pada 2029 mendatang, yang akan mendukung target Net Zero Emission (NZE) berkat penerapan teknologi tangkap dan simpan karbon. “Kami berkomitmen untuk memastikan proyek ini mematuhi standar lingkungan tinggi, termasuk implementasi Carbon Capture Storage (CCS),” tegasnya.

Presiden dan CEO Inpex Corporation, Takayuki Ueda, menyatakan bahwa jika proyek ini berhasil, kontribusinya terhadap perekonomian dalam negeri bisa mencapai US$150 miliar atau sekitar Rp2.454 triliun. Dalam kurun waktu 30 tahun mendatang, proyek ini juga diharapkan dapat menciptakan 70 ribu lapangan kerja.

“Proyek ini tidak hanya akan meningkatkan ketahanan energi dan pasokan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja selama 30 tahun ke depan,” ungkap Ueda. Ia juga menambahkan bahwa hasil gas dari Blok Masela akan diekspor ke lima negara utama, yakni Malaysia, Taiwan, Jepang, China, dan Thailand.