Kampus tidak boleh berdiam diri. Rektor, Dekan, dan seluruh stakeholder di UIN STS Jambi jangan pura-pura buta. Jangan hanya pandai berbicara di podium, tetapi diam ketika ada mahasiswa yang sudah dipukul dan dikeroyok, jika kampus gagal mengambil sikap, maka kampus tersebut sedang membunuh moralitas, dan merusak integritasnya sendiri. Kampus tersebut akan dikenal bukan sebagai pusat ilmu, melainkan sebagai pusat arogansi. Kampus tanpa etika adalah bangunan kosong. Rektor tanpa keberanian adalah boneka seremonial.

Sebagai kader HMI dan mahasiswa, Penulis menyampaikan jalan yang harus ditempuh yaitu menuntut pihak kampus mendorong proses hukum secepat mungkin, jika aparat lambat, kita punya hak moral untuk menuntut. Kita bisa menggelar aksi damai, bukan untuk keributan, tapi untuk mengingatkan bahwa hukum harus tegak.

Kemudian kader HMI harus menjaga identitasnya sebagai insan intelektual, jangan mau ditarik masuk ke kubangan kekerasan. Balasan terbaik untuk kebodohan adalah gagasan. Dan bagian terpentingnya adalah Pejabat kampus harus hadir, bukan menghilang, Pimpinan kampus harus berani membuat pernyataan tegas, memberi sanksi, dan menjamin keamanan mahasiswa. Jika tidak, mereka gagal menjalankan mandat moral dan akademik.