Jika hukum tumpul, maka mahasiswa akan kehilangan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan hilang, jalanan akan kembali jadi arena pertarungan. Itulah yang Penulis khawatirkan. Karena itu, hukum harus jadi panglima, bukan dendam yang membara.

Kekerasan yang terjadi di PBAK UIN STS Jambi adalah bukti nyata bahwa ada yang gagal memahami arti intelektualisme. Apa yang bisa diwariskan dari sebuah pengeroyokan? Hanya kebodohan. Apa yang bisa dipelajari dari menghina simbol organisasi? Hanya kebencian.

“Saya katakan dengan keras: bahwa premanisme adalah kebodohan yang dipelihara. Mereka yang mengandalkan otot tanpa otak sesungguhnya sedang memperlihatkan kekosongan. Mereka bisa memukul, bisa menginjak, bisa berteriak, tapi tidak bisa berpikir.”

Kader HMI tidak boleh terjebak dalam jebakan kebodohan ini. Kita ditempa untuk menjadi insan cita, bukan insan preman. Penulis tahu, saat ini banyak kader HMI yang sedang marah. Emosi menggelegak, amarah menuntut balas. Tetapi Penulis memohon dengan segenap hati, jangan sampai kita balas dengan cara yang sama. Kita bukan mereka. Kader-kader HMI bukan preman.

Mari kita tunjukkan perbedaan. Biarkan mereka berteriak, biarkan mereka menghina, biarkan mereka merusak. Kita akan menjawab dengan laporan resmi, dengan konferensi pers, dengan diskusi publik, dengan langkah-langkah hukum yang sah. Itulah cara kita menjaga marwah. Kita harus tunjukkan kepada mahasiswa, masyarakat, dan khususnya mereka yang tidak tahu bahwa HMI itu bukan organisasi yang sesat atau organisasi sembarangan. HMI adalah rumah intelektual, kader HMI lahir dari gagasan, HMI tumbuh dengan akal sehat.