Apakah kita sebagai kader HmI tidak marah? Tentu kita marah. Tetapi marah bukan berarti kehilangan kendali. Justru di situlah tantangannya, apakah kita mau terperosok dalam lubang yang sama, atau kita berdiri lebih tinggi, menunjukkan bahwa kita berbeda dari segelintir oknum organisatoris tersebut yang tidak tahu nilai-nilai moral dan etika, hanya tahu menggunakan otot?

Penulis ingin mengajukan pertanyaan yang penting, namun sebelumnya maaf jika terlalu terkesan menyakitkan. “UIN STS Jambi ini sebenarnya kampus atau gelanggang preman? Bagaimana mungkin sebuah acara akademik bisa berubah menjadi ajang pengeroyokan? Bagaimana bisa kampus diam seolah-olah tak terjadi apa-apa? Saya merasa miris. Kampus yang seharusnya jadi rumah ilmu berubah jadi arena pertarungan. Mahasiswa baru yang mestinya dikenalkan pada keilmuan justru diperlihatkan tontonan kekerasan. Bukankah ini pengkhianatan terhadap semangat akademik?”

Mari kita bicara jujur. Insiden ini adalah tindak pidana. Ada pengeroyokan, ada penganiayaan. KUHP tidak buta, Aparat tidak boleh tuli. Ini bukan hanya sekadar “gesekan antar mahasiswa”, tapi sebuah kejahatan yang harus diproses.

Penulis menegaskan, jalan yang diambil kader HMI bukan balas dendam. Jalan kita adalah hukum. Kita harus dorong kepolisian, kader-kader HMI harus mengawal kinerja aparat, agar kasus ini ditangani sampai tuntas. Jika aparat lamban, jika hukum hanya jadi formalitas, maka bukan hanya HMI yang dirugikan, tetapi seluruh iklim akademik Jambi yang tercoreng.