Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi seharusnya menjadi pesta akademik, sebuah ruang pengantar mahasiswa baru ke dunia ilmu, etika, dan intelektual. Tetapi, apa yang terjadi? Alih-alih memberi teladan, kegiatan itu justru ternodai dengan keributan, pengeroyokan, hingga penodaan simbol organisasi mahasiswa Islam.
Penulis bukan hanya menulis sebagai mahasiswa biasa, penulis merupakan salah satu kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jambi, yang hatinya terbakar namun akalnya menolak tunduk pada emosi. “Insiden di PBAK ini membuat saya merenung: seberapa jauh kampus Universitas Islam Negeri sudah menyimpang dari jati dirinya sebagai kampus Islami? Bagaimana bisa institusi yang membawa nama besar Islam justru memproduksi tontonan premanisme di hadapan mahasiswa baru?”
Penulis melihat dengan getir bagaimana bendera HMI simbol perjuangan yang telah mengakar puluhan tahun dalam sejarah bangsa dilecehkan. Itu bukan sekadar selembar kain. Itu adalah warisan ideologi, darah, dan keringat generasi sebelumnya. Ketika simbol itu diinjak, maka sesungguhnya oknum itu sedang menginjak sejarah, menginjak martabat, dan menginjak harga diri kader-kader HMI yang masih bernafas hari ini.



