Jakarta — Beberapa media internasional melaporkan tentang wafatnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, yang tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat demonstrasi di Jakarta Pusat pada Kamis (28/8).

Media Singapura, The Straits Times, dalam artikel berjudul “Indonesian students vow more protests after one killed in Jakarta demonstration”, melaporkan bahwa mahasiswa di Indonesia berencana untuk mengadakan unjuk rasa di Markas Besar Polri pada hari Jumat (29/8) setelah insiden tersebut.

Menurut The Straits Times, Affan, yang berusia 21 tahun, meninggal setelah dilindas rantis Brimob saat polisi berupaya membubarkan massa demonstrasi. Para peserta unjuk rasa tetap berkumpul hingga malam hari, dan polisi menggunakan gas air mata serta meriam air untuk mengendalikan situasi.

Media tersebut juga mencatat bahwa Affan sedang mengantar pesanan makanan saat insiden tersebut terjadi. Aksi unjuk rasa dari sekelompok pengemudi ojek di depan markas polisi Kwitang pasca insiden tersebut berhasil diredam oleh militer yang dikerahkan ke lokasi.

Media Thailand, Bangkok Post, juga melaporkan mengenai kasus ini, memperingatkan kemungkinan akan terjadinya lebih banyak demonstrasi pasca insiden fatal tersebut. “Indonesia bersiap menghadapi lebih banyak protes setelah pengemudi ojek tewas dalam bentrokan dengan polisi, yang memicu kemarahan publik dan pertanyaan tentang penanganan perbedaan pendapat oleh Presiden Prabowo Subianto,” tulis Bangkok Post.

Masyarakat Indonesia menunjukkan kemarahan mereka di media sosial pasca insiden ini. “Kecelakaan fatal tersebut telah memicu kemarahan luas di media sosial, dengan sesama pengemudi menggelar unjuk rasa di luar markas polisi,” lanjut laporan tersebut, memperingatkan akan potensi kerusuhan lebih lanjut jika pihak berwenang tidak bertindak.