Jakarta — Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, telah berjanji akan memberikan ‘surga’ bagi keluarga tentara yang gugur saat membela Rusia dalam konflik dengan Ukraina. Dalam pernyataannya, dia menyanjung keluarga para prajurit sebagai ‘martir’ dan mengakui kepahlawanan mereka.
Berdasarkan laporan dari kantor berita Korut, KCNA, Kim mengadakan acara pada Jumat (29/8) untuk menjamu keluarga prajurit yang terlibat dalam perang tersebut. Dalam kesempatan ini, dia menyampaikan rasa duka mendalam atas kehilangan nyawa para prajurit.
Kim menekankan bahwa ketangguhan dan keberanian keluarga para prajurit telah berkontribusi pada keberhasilan mereka di medan tempur. Ia pun menyatakan, “Mereka belum menulis surat kepada saya, tetapi saya yakin mereka telah mempercayakan keluarga mereka, termasuk anak-anak tercinta, kepada saya.”
Lebih lanjut, ia menjanjikan bahwa negara akan memberikan kehidupan yang layak di tanah yang telah dipertahankan dengan pengorbanan para martir tersebut. Kegiatan tersebut disaksikan oleh anggota keluarga, di mana Kim terlihat membungkuk sebagai bentuk penghormatan.
Acara ini menjadi salah satu bentuk penghormatan terbaru bagi tentara Korut yang mengalami banyak kehilangan di wilayah Kursk, Rusia, dekat perbatasan Ukraina. Kim dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah mengkonfirmasi pengiriman pasukan tersebut pada bulan April setelah periode lama tanpa pernyataan.
Pada Sabtu (30/8), KCNA menyiarkan film dokumenter berdurasi 25 menit yang menggambarkan keterlibatan tentara dalam ‘Operasi Pembebasan Kursk’, yang bertujuan untuk mengusir pasukan Ukraina. Namun, Reuters tidak dapat memverifikasi keaslian rekaman tersebut secara independen.
Film tersebut menyebutkan bahwa keputusan untuk mengerahkan pasukan ke Rusia diambil oleh Kim pada bulan Agustus, dua bulan setelah Kim dan Putin menandatangani perjanjian keamanan yang mencakup pakta pertahanan bersama.
Kim diperkirakan akan hadir dalam parade militer bersama Putin di China minggu depan untuk memperingati penyerahan Jepang dalam Perang Dunia II. Ini merupakan pertemuan ketiga antara keduanya dalam dua tahun terakhir, menunjukkan peningkatan aliansi militer yang signifikan.
Hingga saat ini, kedua negara belum mengungkapkan secara detail skala pengerahan pasukan atau jumlah korban di pihak Korut. Menurut intelijen Korea Selatan, kira-kira 600 prajurit dari total 15.000 orang yang dikerahkan dilaporkan tewas, sementara intelijen Barat memperkirakan angka tersebut bisa lebih dari 6.000.



