Ibunya, Mai Jalal al-Sharif, menceritakan, “Dia hanya berbicara dengan bonekanya, bertanya, ‘Apakah kamu mau bermain denganku, atau akan seperti anak-anak lain?’ Kesehatan mentalnya sangat terganggu.”
Ahmad Alhendawi, direktur regional LSM Save the Children, menggambarkan, “Gaza saat ini adalah kuburan bagi anak-anak dan mimpi-mimpi mereka.” Ia menambahkan, “Setiap anak di Gaza terjebak dalam mimpi buruk yang tak terhindarkan, tumbuh dengan perasaan bahwa dunia telah meninggalkan mereka.”
Sejak 2 Maret, Israel menutup perlintasan Gaza, hanya mengizinkan masuknya 86 truk bantuan per hari, yang hanya mencakup 14 persen dari kebutuhan minimal 600 truk per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk, menurut data dari Kantor Media Pemerintah Gaza. Kurangnya bantuan ini telah menyebabkan krisis kelaparan yang parah di Gaza. Badan PBB dan lebih dari 150 organisasi kemanusiaan menyerukan gencatan senjata permanen untuk memperbolehkan pengiriman bantuan dan pemulihan bagi generasi yang terhimpit oleh penderitaan ini.



