Seorang anak Palestina bernama Kadim Khufu Basim mengungkapkan bahwa ia harus menghidupi keluarganya yang terdiri dari enam anggota, sementara ayahnya sedang dirawat di Mesir. “Saya suka bermain sepak bola, tetapi sekarang saya harus menjual kue kering. Masa kecil saya hilang. Sejak perang dimulai, seolah kami tidak memiliki masa kecil lagi,” ungkap Basim kepada Al Jazeera.

Di bawah hukum internasional, seharusnya anak-anak seperti Basim terlindungi dari dampak perang. Namun, di Gaza, mereka justru menjadi yang paling menderita di tengah kampanye militer Israel. Sekolah-sekolah ditargetkan, fasilitas air dihancurkan, dan pasokan makanan diblokir, sehingga hak-hak dasar anak-anak—seperti pendidikan, bermain, dan nutrisi yang layak—dijadikan senjata melawan generasi yang akan datang, tegas Zaimovic.

‘Kuburan untuk Anak-anak’

Genosida yang terjadi di Gaza juga memberikan bekas luka psikologis yang mendalam bagi anak-anak. Contohnya, Lana, seorang anak pengungsi berusia 10 tahun, mengalami depigmentasi pada kulit dan rambutnya akibat trauma setelah pengeboman yang terjadi di dekat tempat penampungannya. Ia kini lebih banyak berbicara dengan bonekanya, karena anak-anak lainnya sering mengolok-olok penampilannya.