Jakarta — Demo yang berlangsung di Chile, Amerika Selatan, pada tahun 2019 berujung pada kekerasan, menyebabkan ratusan demonstran mengalami kebutaan.
Di bulan November 2019, tembakan shotgun dari polisi menyebabkan 230 orang mengalami cedera pada mata. Dari jumlah tersebut, 50 di antaranya menderita kebutaan permanen dan memerlukan mata prostetik.
Dr. Patricio Meza, Wakil Presiden Medical College of Chile, menjelaskan, “Para pasien tidak hanya kehilangan kemampuan melihat, tetapi juga kehilangan mata mereka yang sesungguhnya.”
Rata-rata usia korban yang mengalami kerusakan penglihatan adalah 30 tahun. Meza mencatat bahwa dalam 80 persen kasus, cedera mata disebabkan oleh dampak timah atau proyektil karet.
“Kita tengah menghadapi krisis kesehatan yang serius, keadaan darurat medis,” kata Meza, merujuk pada tingginya jumlah kasus komplikasi okuler akibat tembakan di mata dalam waktu tiga minggu terakhir.
Penyebab unjuk rasa yang meluas di Chile berakar dari kesenjangan ekonomi dan lonjakan harga. Pergerakan yang dimulai dengan protes terhadap tarif kereta bawah tanah ini berkembang menjadi seruan reformasi yang lebih luas, menyoroti ketimpangan antara warga miskin dan kaya.
Para demonstran menuntut perubahan di berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan, pendidikan, dan sistem pensiun. Sejak sebulan sebelum unjuk rasa, kemarahan warga semakin meluas, terutama terhadap perilaku segelintir elite yang hidup dalam kemewahan di tengah kondisi sulit yang dialami masyarakat.
Demonstrasi ini juga menyebabkan sekitar 700 orang ditangkap dan 23 orang kehilangan nyawa. Meskipun Presiden Sebastian Pinera mencabut status darurat yang dideklarasikan saat demonstrasi berlangsung, aksi unjuk rasa tetap berlanjut.