“Pak, tolong bicarakan sama Ibu Mutiara. Saya hanya pekerja, apapun masalah atas nama PT, ibu yang atur semua,” ujarnya.
Ibu Mutiara, yang kemudian menghubungi tim media melalui pesan WhatsApp, membenarkan bahwa pekerja digaji dengan sistem borongan Rp250/kg. Ia menyebut hal tersebut sebagai praktik yang umum di Jambi.
“Bahkan di tempat lain ada yang lebih murah, Rp200 per kilo, dalam pola kerja disini, saat barang banyak kami bisa memper kerjakan hingga 50 orang, kalau bahan sedikit ya kita hanya pakai 20 orang saja” kata beliau. Ia juga menambahkan bahwa penggunaan masker atau APD lainnya tidak diwajibkan.
“Kalau mereka mau pakai, silakan. Kalau tidak juga tidak masalah, itu hak mereka,” ucapnya, seraya menyatakan bahwa perusahaan telah melengkapi seluruh dokumen perizinan dan legalitas.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jambi, Dodi Haryanto Parmin, menyatakan akan segera menindaklanjuti laporan tersebut.
“Terima kasih atas informasinya. Akan kami tindak lanjuti. Untuk kepentingan pemeriksaan, mohon disertakan informasi alamat lengkap perusahaannya,” kata Dodi saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan bahwa pihaknya belum bisa memberikan pernyataan lebih jauh sebelum dilakukan pemeriksaan oleh tim pengawas. “Kami harus turun langsung untuk melihat kondisi di lapangan,” tutupnya.



