Diskusi ini menjadi ruang terbuka bagi para buruh AMT (awak mobil tangki) yang saat ini bekerja di bawah naungan outsourcing PT Lambang Azas Mulia, mitra dari PT Elnusa Petrofin — anak usaha Pertamina. Mereka menyuarakan kegelisahan terkait:
• Tidak adanya transparansi uang jalan,
• Uang makan hanya Rp23.000 per hari,
• Tunjangan transportasi Rp15.000 per hari,
• Perhitungan lembur yang tidak jelas,
• Dan tuntutan untuk pembayaran uang jalan sesuai standar.
Masalah ini sebelumnya juga telah dikonfirmasi melalui surat hak jawab dari PT Elnusa Petrofin pusat kepada Perkumpulan Elang Nusantara, yang terus mengadvokasi persoalan perburuhan ini sejak awal.

Dr. Noviardi Ferzi, akademisi Jambi yang dikenal dengan semangat aktivismenya, turut menguatkan bahwa persoalan outsourcing adalah penyakit sistemik nasional.

“Buruh harus bersatu. Pemerintah harus jeli dan tegas dalam mengawasi pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan outsourcing. Tanpa pengawasan, buruh akan terus jadi korban.”
Diskusi ini dimoderatori oleh Risma Pasaribu dan Irwanda Nauufal Idris selaku penyelenggara sekaligus aktivis muda dari Perkumpulan Elang Nusantara. Dalam penutupnya, Irwanda menyampaikan apresiasi mendalam: