💔 Bittersweet news to share: I was impacted by Microsoft’s latest round of layoffs. pic.twitter.com/QPwYJvjQkC
— Gabriela de Queiroz (@gdequeiroz) May 13, 2025
“Apakah saya sedih? Sudah pasti. Hati saya hancur melihat begitu banyak kolega bertalenta yang harus meninggalkan perusahaan. Mereka bukan hanya profesional andal, tetapi juga individu yang benar-benar peduli dan berdedikasi.”
Kebijakan ini muncul di tengah langkah agresif Microsoft dalam memperluas kapabilitas AI di seluruh lini produknya. Pada April lalu, CEO Satya Nadella menyebut bahwa dalam beberapa proyek, hingga 30% kode ditulis langsung oleh AI. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa otomatisasi berbasis kecerdasan buatan mulai menggeser peran konvensional pengembang perangkat lunak.
Analisis Bloomberg menyebutkan bahwa di Washington saja, dari sekitar 2.000 posisi yang dihilangkan, lebih dari 800 di antaranya berasal dari bidang rekayasa perangkat lunak. Artinya, para talenta teknologi yang sebelumnya menjadi ujung tombak inovasi kini justru menjadi pihak yang tergantikan.
Fenomena ini memunculkan diskusi baru di ranah industri teknologi mengenai batas antara efisiensi dan etika dalam implementasi AI. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana perusahaan teknologi akan terus mengandalkan AI, bahkan jika itu berarti mengorbankan kreator manusianya sendiri?



