Duka warga Jambi dihantam banjir saat Lebaran

Berita, Peristiwa940 Dilihat

Ketika mayoritas masyarakat Indonesia merayakan Idulfitri, sekelompok warga menyambut Lebaran dalam keadaan duka akibat serangan banjir.

Bagaimana cerita mereka merayakan hari besar umat Islam di tengah bencana? BBC News Indonesia mewawancarai beberapa korban banjir di Jambi, Yogyakarta, dan Papua.

Berbagai jenis makanan dan cemilan kering khas Lebaran, serta minuman kemasan telah tersusun rapi di ruang tamu. Perabot rumah sudah ditata sedemikan rupa agar membuat nyaman sanak saudara yang akan datang.

Desmayati, warga Kelurahan Simpang III Sipin, Kota Baru, Jambi, berharap keluarga besarnya yang datang akan merasa nyaman dan bahagia saat mereka merayakan Lebaran di rumahnya.

Namun, harapan perempuan 54 tahun itu sirna. Semangat merayakan Lebaran bersama keluarga, yang datang dari Sumatra Barat dan Lampung, berubah jadi kepanikan.

Desmayati dan keluarganya berusaha menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan.
Desmayati dan keluarganya berusaha menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan.

Rumah Desmayati yang telah dihuni lebih dari 25 tahun ini diserang banjir untuk kali pertama pada Minggu (30/03).

“Keramik belakang jebol, hancur. Lalu masuk airnya. Tidak bisa disetop lagi, kayak bom. Air masuk dari belakang karena ada parit kecil,” kata Desmayati saat ditemui di Jambi, Senin (31/03).

Air tidak henti-henti memasuki rumahnya hingga setinggi pinggang orang dewasa.

Desmayati dan keluarganya berusaha menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan.
Desmayati dan keluarganya berusaha menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan.

Desmayati dan keluarganya berusaha menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan. Namun, derasnya air mengakibatkan lemari rusak, pakaian basah, dan sejumlah barang elektronik rusak.

Air sempat surut sebentar, katanya, tapi keesokan paginya hujan kembali datang. Rumah Desmayati pun dilanda banjir lagi.

Misrina dan suami membersihkan rumahnya yang diserang banjir pada Minggu (30/03).
Misrina dan suami membersihkan rumahnya yang diserang banjir pada Minggu (30/03).

Desmayati dan keluarganya pun tidak bisa mengikuti salat Idulfitri. Lagi pula, mereka tidak memiliki pakaian yang layak dan bersih untuk beribadah karena telah dilumuri lumpur banjir.

Bukan hanya itu, anggota keluarga yang berasal dari luar kota pun batal ke rumahnya.

“Suasana Lebaran yang menyedihkan. Kita sudah siapkan kue. Sudah siap yang lain, tetapi tamu tidak bisa datang ke sini karena genangan air seperti ini,” katanya.

Foto udara kawasan permukiman terendam banjir di Kenali Besar, Jambi, Minggu (30/03).
Foto udara kawasan permukiman terendam banjir di Kenali Besar, Jambi, Minggu (30/03).

Duka yang sama juga dirasakan Misrina Suryani, 33 tahun, warga Kelurahan Simpang IV Sipin, Jambi.

Misrina berkata, dirinya dan suami telah membersihkan rumahnya yang diserang banjir pada Minggu (30/03). Dia berharap bisa menerima tamu esok harinya, saat Idulfitri.

Namun, banjir kembali datang.

“Kemarin bersih-bersih nian, mau Lebaran. Sudah disterilkan, tetapi hari ini banjir lagi. Kue-kue sudah siap. Masak lontong, ketupat di meja makan. Dua hari kami kebanjiran. Ini memang tertinggi sepanjang sejarah banjir,” ujarnya.

Warga menggunakan kayu untuk melintasi kawasan permukiman yang terendam banjir di Penyengat Rendah, Jambi, Senin (17/03).
Warga menggunakan kayu untuk melintasi kawasan permukiman yang terendam banjir di Penyengat Rendah, Jambi, Senin (17/03).

Ketua RT di Kelurahan Simpang III Sipi, Rozjiman, mengatakan terdapat 25 rumah yang terdampak banjir di wilayahnya.

“Di hari bahagia ini mestinya menghadapi bahagia juga. Tetapi malah menghadapi situasi ini. Sudah surut, datang lagi air. Masuk ke rumahnya. Ini kan tidak kondusif. Tidak merasakan Lebaran yang meriah,” katanya.

Warga mengevakuasi korban banjir menggunakan perahu karet BNPB di Kenali Besar, Jambi, Minggu (30/03).
Warga mengevakuasi korban banjir menggunakan perahu karet BNPB di Kenali Besar, Jambi, Minggu (30/03).

Banjir di Kota Jambi juga mengakibatkan satu orang meninggal dunia pada Minggu (30/03).

“Lantai bangunan kamar mandi yang membelakangi anak sungai runtuh] menimpah korban, dan korban langsung tertimbun,” kata Mustari, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Jambi.

Selain itu, Mustari mengatakan banjir yang berlangsung selama dua hari ini terjadi di 23 kelurahan dalam delapan kecamatan.

Dia mengatakan penyebab banjir berbeda-beda di setiap wilayah, seperti drainase yang kurang memadai, sedimentasi pada drainase, penumpukan sampah, dan minimnya titik resapan air.